Jejak Pemberdayaan Ima Yustianingsih di Balik Mahkota Putri Hijab Jawa Timur
Latar belakang pendidikannya di S1 PGMI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang turut membentuk pola pikirnya yang peduli pada dunia edukasi.
TRENGGALEK – Sosok perempuan muda berusia 22 tahun asal Kabupaten Trenggalek ini tampak tenang saat menceritakan perjalanan hidupnya yang kini bersinggungan erat dengan dunia pemberdayaan.
Ima Yustianingsih, anak kedua dalam keluarganya, telah menempuh jalur panjang untuk membuktikan bahwa kecantikan dan kecerdasan dapat berjalan beriringan demi memberikan dampak sosial bagi lingkungan sekitar.
Latar belakang pendidikannya di S1 PGMI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang turut membentuk pola pikirnya yang peduli pada dunia edukasi.
"Bagi saya pendidikan bukan sekadar gelar, melainkan fondasi utama untuk membangun kepercayaan diri," ujar Ima sapaan akrabnya kepada TIMES Indonesia melalui keterangan tertulis, Selasa (21/4/2026).
Melalui akun media sosial Instagram @imayustia85, lebih lanjut ia kerap aktif membagikan aktivitas harian dan pesan-pesan positif yang ditujukan bagi generasi muda di tanah air.
Prestasi dalam Narasi Pemberdayaan
Langkah Ima di dunia pageant dimulai dengan pencapaian gemilang sebagai Winner Putri Hijab Indonesia Jawa Timur 2025 yang kemudian membawanya menembus jajaran Top 25 Putri Hijabfluencer Indonesia.
Di samping itu, wajahnya juga kerap menghiasi berbagai kampanye digital setelah ia dipercaya menjadi Brand Ambassador Zaneva Hijab serta terpilih sebagai Mahasiswi Pilihan Rabbani 2025.
Lalu Ima mengungkapkan bahwa pencapaian tersebut bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan gerbang awal untuk menyuarakan gagasan yang lebih besar.
"Bagi saya gelar yang disandang adalah tanggung jawab moral untuk menggerakkan perubahan di tengah masyarakat, khususnya bagi kaum perempuan yang masih ragu untuk menunjukkan potensi terbaik mereka," katanya sembari tersenyum manis.
Advokasi Perempuan Berdaya Berdampak Nyata
Kemudian melalui gerakan bertajuk Perempuan Berdaya Berdampak Nyata, Ima memfokuskan kegiatannya pada edukasi, motivasi, dan aksi sosial yang menyasar pelajar serta masyarakat luas.
Salah satu program unggulannya adalah PHJT Goes to School, di mana ia turun langsung ke sekolah-sekolah untuk memberikan penguatan karakter serta materi mengenai pentingnya kemampuan berbicara di depan umum dan pembentukan citra diri.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan sosial yang dijalankannya tidak hanya terbatas pada pemberian materi di dalam kelas, tetapi juga menyentuh aspek bakti sosial dan kolaborasi dengan berbagai komunitas.
"Sosialisasi mengenai personal branding saya anggap sangat krusial bagi perempuan muda agar mereka memiliki keberanian untuk memimpin dan mandiri secara ekonomi maupun mental di masa depan," tuturnya.
Menghadapi Stigma dan Harapan Masa Depan
Meskipun peluang untuk menyebarkan inspirasi terbuka lebar berkat media sosial, Ima tidak menampik adanya tantangan berupa stigma negatif yang masih melekat di beberapa lapisan masyarakat.
Kurangnya kepercayaan diri pada sebagian perempuan muda serta keterbatasan akses edukasi di daerah-daerah tertentu menjadi batu sandungan yang harus dihadapi dengan konsistensi dan komitmen yang tinggi.
Lebih jauh Ima berharap banyak advokasi yang dijalankan selama ini bisa terus berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia.
"Saya memimpikan masa depan yang lebih cerah di mana setiap perempuan berani bermimpi dan mampu menjadi pribadi yang berdampak bagi lingkungannya," imbuh Ima menambahkan.
Dukungan penuh dari orang tua, pemerintah daerah, serta rekan-rekan sesama komunitas menjadi energi tambahan bagi Ima untuk terus melangkah membawa perubahan positif yang nyata. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


